eTahfizh dan SMART gelar Kelas Pendadaran Buat Calon Alumni

eTahfizh dan SMART gelar Kelas Pendadaran Buat Calon Alumni

 

“Ini adalah pembekalan untuk mempersiaplan antum semua menempuh jalan panjang selepas antum selesai di SMART maupun eTahfizh,” pesan ustaz Juli Siswanto, Kepala eTahfizh dalam sambutannya mewakili GM Divisi SEI pada pembukaan acara Kelas Pendadaran 2022 Senin (23/05).

 

Bertempat di Aula Al Insan Bumi Pengembangan Insani Bogor, sebanyak 42 orang santri eTahfizh dan siswa SMART Ekselensia Indoensia antusias mengikuti beragam materi yang disisipkan panitia mulai pukul 08.00 WIB.

 

Materi pembuka disampaikan Fatchuri Rosidin tentang Nilai-Nilai Dompet Dhuafa. Ia menyampaikan tentang arti kehadiran lembaga filantropi yang melahirkan SMART dan eTahfizh.

 

“Dompet Dhuafa lahir untuk melahirkan legacy amal saleh. Maka Anda sebagai alumni Dompet Dhuafa harus melanjutkan legacy itu. Harus jadi orang saleh dan mewariskan kesalihan itu kepada orang lain,” paparnya.

 

Pada materi kedua para peserta medapatkan materi kequranan. Hadir sebagai pemateri, ustaz Luthfi Bagus Briliantono, alumni Pusat Studi Qur’an yang juga seorang hafiz.

 

Di sesi kedua ini pemateri memaparkan tentang jati diri seorang penghafal Al-Qur’an dengan mengkaji makna “hafaza” dari segi ilmu Isytiqaq, sebuah ilmu tentang pembentukan kalimat.

 

“Jati diri seorang Hafizul Qur’an (penghafal Qur’an) yang terfokus dalam kata “hafaza” setidaknya ada empat. Penghafal Qur’an itu shalatnya terjaga, berkomitmen kuat dan tepat janji, mampu menjaga hasrat seksual, serta cermat dan teliti,” paparnya.

 

Selepas menjelaskan lebih lanjut tiap poin dari pemaknaan jati diri penghafal Qur’an tersebut ia juga berpesan terutama kepada santri eTahfizh agar tetap melibatkan diri dalam komunitas penghafal Qur’an agar hafalan terjaga setelah jadi alumni.

 

“Kita harus punya komunitas khataman bil ghoib. Kalau sendiri akan terasa berat. Harus menyamankan diri menghafalkan Al-Qur’an. Kalau kita gak nyamankan diri terlebih dulu, kita akan nyalahin waktu dan tempat,” pesannya.

 

Di sesi ketiga selepas Zuhur, peserta mendapatkan materi tentang kepemimpinan dari ustaz Imam Hamidi, mantan aktivis yang saat ini menjadi pengelola Beastudi Etos ID.

 

Dalam penyampaiannya ia memaparkan tentang falsafah kepemimpinan serta peran kepemimpinan yang bisa diambil para pemuda saat menjadi mahasiswa.

 

“Kalau nanti Anda bergabung di organisasi, bukan berapa banyak organisasi yang Anda pimpin atau masuki tapi seberapa berani Anda mengawali wacana keislaman di organisasi di mana Anda berada,” pesannya.

 

Sesi terakhir bakda Isya, santri mendapatkan materi terakhir tentang Shifting Paradigm and Campus Survival. Hadir sebagai pemateri, Panji Laksono, mantan Presiden BEM KM IPB University yang juga alumni SMART Ekselensia Indonesia.

 

Dengan berapi-api khas gaya aktivis, Panji mengajak para peserta untuk meneruskan nilai-nilai yang diwariskan para pemuda yang dulu memelopori kebangkitan bangsa Indonesia.

 

“Esensinya, ilmu itu mendekatkan otak dengan hati. Kita pintar tapi juga harus punya kepekaan sosial tinggi. Kalau tidak, kita hanya akan jadi orang pintar yang membodohi orang-orang bodoh,” jelasnya.

 

Ia juga mengajak peserta untuk tetap menjadi pejuang masyarakat.

 

“Jumlah mahasiswa saat ini hanya tiga persen dari seluruh rakyat Indonesia. Dari jumlah itu, berapa persen yg memikirkan masyarakat umat dan dakwah? Jangan sampai kita jadi mahasiswa yang hanya sibuk dengan diri sendiri,” urainya.

 

Kelas Pendadaran berakhir sekira pukul 21.30 WIB. [adr]

Leave a Reply

Your email address will not be published.